Sertifikat Pendidik

S. Efiaty

Gambar Contoh Sertifikat Pendidik

Di dalam Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 nomor 12 dijelaskan bahwa Sertifikat Pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Sertifikat pendidik merupakan hal yang paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini.

 

  1. Jalur Sertifikasi Guru:

(1)   Jalur Pendidikan

Sertifikasi Guru Jalur Pendidikan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah. Di dalam sisdiknas dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional. Untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana atau Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.

Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal S1/D-IV dibuktikan dengan ijazah dan pemenuhan persyaratan relevansi mengacu pada jejang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina. Misalnya, guru SD dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Studi PGSD/Psikologi/Pendidikan lainnya, sedangkan guru Matematika di SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Pendidikan Matematika atau Program Studi Matematika yang memiliki Akta IV. Pemenuhan persyaratan penguasaan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi.

 

Tujuan sertifikasi guru adalah untuk membantu Rayon LPTK yang ditugaskan sebagai penyelenggara sertifikasi untuk melakukan penguatan-penguatan dalam sistem kelembagaannya.

 

(2)   Jalur Portofolio

Sertifikasi guru pola PF diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang:

(a)    memiliki prestasi dan kesiapan diri untuk mengikuti proses sertifikasi melalui pola PF

(b)   tidak memenuhi persyaratan dalam proses pemberian sertifikat pendidik secara langsung (PSPL).

Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan berkas yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup:

(a)      kualifikasi akademik

(b)      pendidikan dan pelatihan

(c)      pengalaman mengajar

(d)     perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran

(e)      penilaian dari atasan dan pengawa

(f)       prestasi akademik

(g)      karya pengembangan profesi

(h)      keikutsertaan dalam forum ilmiah

(i)        pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial

(j)        penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

 

 

  1. Tujuan Sertifikasi Guru:

(1)   menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik professional

(2)   meningkatkan proses dan hasil pembelajaran

(3)   meningkatkan kesejahteraan guru

(4)   meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

 

Sertifikasi guru diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil (swasta).

 

Di beberapa negara, sertifikasi guru telah diberlakukan, misalnya di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Di Denmark kegiatan sertifikasi guru baru dirintis dengan sungguh-sungguh sejak tahun 2003. Memang terdapat beberapa negara yang tidak melakukan sertifikasi guru, tetapi melakukan kendali mutu dengan mengontrol secara ketat terhadap proses pendidikan dan kelulusan di lembaga penghasil guru, misalnya di Korea Selatan dan Singapura. Semua itu mengarah pada tujuan yang sama, yaitu berupaya agar dihasilkan guru yang bermutu.

 

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sertifikasi guru tahun 2007 dan 2008, khususnya untuk penyelenggaraan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio masih ditemukan sejumlah kendala yang dapat menghambat proses pelaksanaan sertifikasi. Kendala ini umumnya terkait dengan sistem kelembagaan Rayon LPTK terkait, misalnya hubungan kemitraan antara PT induk dengan mitra yang kurang harmonis, kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki PT untuk penyelenggaraan sertifikasi, dan keragaman pemahaman atau interpretasi asesor terhadap rubrik penilaian portofolio serta pola pelaksanaan sertifikasi. Untuk itu, dipandang perlu adanya bantuan dari departemen yang menaunginya. Bantuan ini dapat gulirkan dalam bentuk hibah nonkompetitif yang berbasis pada kebutuhan LPTK.

 

  1. Latar Belakang Munculnya Sertifikasi Guru:

(1)      Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(2)      Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

(3)      Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan

 

  1. Dasar hukum pelaksanaan sertifikasi guru adalah sebagai berikut.

(1)   Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(2)      Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

(3)      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

(4)      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar

Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

(5)      Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru

(6)      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi

bagi Guru dalam Jabatan yang sedang dalam proses perubahan Kepmendiknas yang

baru.

(7)      Peraturan Mendiknas Nomor 40 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan

melalui Jalur Pendidikan.

(8)      Keputusan Mendiknas Nomor 056/O/2007 tentang Pembentukan Konsorsium

Sertifikasi Guru (KSG).

(9)      Keputusan Mendiknas Nomor 057/O/2007 tentang Penetapan Perguruan Tinggi

Penyelenggara Sertifikasi Guru dalam Jabatan yang sedang dalam proses perubahan

Kepmendiknas yang baru.

 

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu    Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Syawal Gultom menyatakan optimistis proses sertifikasi guru akan selesai tahun 2013. Menurut beliau, target ini lebih cepat dua tahun dari yang diagendakan. Syawal menjelaskan, guru yang mengajukan sertifikasi pada 2010 mencapai 2.791.204 orang. Pada tahun 2011, sedikitnya ada 1.102.021 guru yang telah disertifikasi.

 

Jumlah 1.102.021 guru yang disertifikasi berasal dari 746.727 guru yang disertifikasi pada 2010, ditambah sisanya yang berasal dari proses sertifikasi tahun 2011. Tahun 2010, dari 746.727 guru yang disertifikasi, sedikitnya ada 731.002 atau sekitar 97,9 persen guru yang tunjangan profesinya telah dibayarkan. Sampai dengan 2011, ada sekitar 961.688 guru yang tidak lolos seleksi sertifikasi.  Berdasarkan fakta-fakta tersebut menurut saya proses sertifikasi guru akan selesai dua tahun lagi. Setelah melewati berbagai seleksi, saya rasa tidak semua guru dari jumlah sekitar 900.000 itu akan lolos semua.

 

Ada beberapa kendala yang menyebabkan guru-guru tersebut tidak lolos seleksi sertifikasi, misalnya tidak memenuhi syarat karena belum mendapatkan gelar sarjana (S-1) ataupun belum berusia minimal 50 tahun dan telah memiliki masa kerja selama 20 tahun.

 

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, menurut Syawal, proses sertifikasi guru akan selesai dua tahun lagi. Setelah melewati berbagai seleksi, dirasa tidak semua guru dari jumlah sekitar 900.000 itu akan lolos semua. Yang terpenting dari proses sertifikasi guru adalah melakukan seleksi yang lebih adil dan akuntabel dengan mendahulukan orang-orang yang memang memiliki kemampuan lebih baik atau waktu mengabdi lebih lama.

 

Sebelumnya dirilis, menurut rencana, pada tahun 2012 ada 300.000 guru yang akan disertifikasi. Sejak dimulai tahun 2007, terdapat 1.101.552 guru yang telah mengikuti sertifikasi. Dari 2.925.676 jumlah total guru pada tahun 2011, sekitar 746.727 guru di antaranya (25,5 persen) telah bersertifikat. Dari guru bersertifikat itu, 731.002 guru (97,9 persen) telah menerima tunjangan profesi.

Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pada Pasal 12 dinyatakan bahwa setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu. Kemudian pada pasal 13 dijelaskan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.  Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

 

Selain sertifikasi guru juga terdapat Sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diberikan setelah memenuhi syarat sebagai berikut:

(1)      memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada perguruan tinggi sekurang-

kurangnya 2 (dua) tahun;

(2)      memiliki jabatan akademik sekurang-kurangnya asistenahli; dan

(3)      lulus sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan

program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi yang ditetapkan oleh

Pemerintah.

Pemerintah menetapkan perguruan tinggi yang terakreditasi untuk menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan. Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penetapan perguruan tinggi yang terakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Di dalam pasal 48 dijelaskan status dosen terdiri atas dosen tetap dan dosen tidak tetap, dan jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s