Berfikir Spasial

didownload pada hari Sabtu tanggal 7 Juli 2012 pukul 12.30 oleh S. Efiaty saat mata kuliah Indraja dan Pemetaan Pak Partoso

Berfikir Spasial

MENYEMAI KEMAMPUAN BERFIKIR SPASIAL

(spatial thingking skill)

Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Geospasial Day

Di FKIP Uiversitas Sebelas Maret Surakarta

Tanggal 22 Maret 2012

Oleh: Partoso Hadi

Staff pengajar Prodi P. Geografi

FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

Blog: www.partosohadi.staff.fkip.uns.ac.id

e-mail: partoso_geo@fkip.uns.ac.id.

HP. 082137687755

 Abstrak

 Program Studi Pendidikan Geografi hakekatnya sekolah guru untuk menghasilkan guru geografi dengan kompetensi profesional bercirikan spatial thinking skill yang dibangun dari substansi yang demikian luas. Setiap telaah substansial (litosfer,atmosfer, hidrosfer, biosfer, antroposfer) adalah sebentuk ladang penyemaian spatial thinking skill. Mempelajari substansinya sendiri menjadi beban mahasiswa sebab harus mengambil semua pelajaran cabang geografi manakala kedalaman penguasaan bidang ilmu harus mendalam/ kaffah. Tidak ada penjurusan pada sekolah guru di perguruan tinggi, sementara di sekolah menengah tidak dibedakan juga bahan ajar dari sumber geografi fisik, geografi manusia dan geografi budaya. Upaya penyemaian dan kemudian pemupukannya, berujung pada (semacam) capita selecta Pengajaran Mikro-PPL dan Metode Penelitian Geografi-Penyusunan Skripsi.

PENDAHULUAN

Tema Menyemai Kemampuan Berfikir Spasial dikemukakan dalam seminar ini dilatar belakangi oleh pertanyaan seorang mahasiswa pendidikan Geografi FKIP UNS yang mempertanyakan identitas peta geografi (dalam forum matakuliah Metodologi Penelitian Geografi di semester VI/ Genap Pebruari-Juli 2012, dua minggu yang lalu). Jika fenomena ini dipandang mewakili mahasiswa Pendidikan Geografi  pada umumnya, maka boleh diduga bahwa pemahaman mengenai konsep spasial beserta implementasi oprasionalnya belum dikuasai oleh mahasiswa.

Mahasiswa pendidikan geografi yang kelak akan menjadi guru professional di bidang geografi di tingkat pendidikan dasar (SMP/ MTs) dan sekolah menengah (SMA/ Aliyah) seharusnya sudah memiliki ketrampilan berfikir spasial (spatial thinking skill) sebagai bekal kompetensi profesional dan kompetensi pedagogis  untuk mengemban amanah sebagai guru geografi.

Upaya menyemai kemampuan spasial ini hanya sebentuk refleksi apa yang dilakukan dan ideal yang didambakan staf pengajar Prodi P. Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret.

PERFORMA GURU GEOGRAFI

Konon banyak keluhan tentang pembelajaran geografi di sekolah menengah: tidak menarik perhatian peserta didik, membosankan, lebih berujung ke hafalan…kurang berbobot, lebih menambah beban…dan sebagainya dan seterusnya. Agaknya pembelajaran geografi di SMP/ MTs dan SMA/ MA belum sepenuhnya sesuai dengan filosofi atau esensi geografi sebagai ilmu spasial yang diharapkan memberikan bekal kemampuan berfikir spasial (spatial thinking skill) dan spatial intelligence kepada peserta didik.

Ikatan Geograf Indonesia (IGI) sudah sejak lama menaruh perhatian kepada pembenahan pembelajaran geografi di sekolah. Melalui dua kali sarasehan yang digagas oleh mendiang I Made Sandy dan diselenggarakan di Jakarta oleh Geografi FMIPA UI serta Semiloka di IKIP Semarang pada medio 1988 diidentifikasi akar permasalahannya ada pada kurikulum sekolah dan pada buku ajar (Semlok IGI di IKIP Semarang, April 1988).

Akar permasalahan tersebut sampai hari ini agaknya belum banyak berubah. Guru lebih membelajarkan ilmu batuan daripada geomorfologi geografi (geomorphological geography- Pidato Pengukuhan Guru Besar mendiang Prof. Drs. Kardono Darmojuwono), lebih mengajarkan ilmu tanah daripada geografi tanah, lebih mengajarkan ilmu iklim daripada klimatologi regional, lebih mengajarkan ilmu ekonomi daripada geografi ekonomi, lebih mengajarkan demografi dan studi kependudukan daripada geografi penduduk dan sebagainya dan seterusnya. Selain itu juga begitu mudah mencari kesalahan konsep dalam buku ajar yang digunakan guru dan murid.

Kesepakatan IGI (pada waktu itu) mengamanahkan bahwa pada bidang apapun ilmu geografi diamalkan termasuk dalam pembelajaran geografi di sekolah, seharusnya berangkat dari esensi geografi yang baku. Rupa-rupanya masih perlu optimalisasi pembekalan kompetensi profesional (kuliah: filsafat ilmu geografi dan cabang-cabang ilmu geografi) dan kompetensi pedagogis (kuliah: ilmu pembelajaran geografi).

CIRI SPASIAL GEOGRAFI

Geografi bukan ilmu segala macam. Tetapi dari kajian materi-substansi yang bermacam-macam, telaahnya selalu dari perspektif spasial; menghasilkan wilayah-wilayah geografik yang mencirikan persamaan obyek, fenomena, pola, masalah, potensi, yang ada di ruang muka bumi sebagai sebentuk persamaan (sekaligus perbedaan) obyek, fenomena, pola, masalah, potensi;  ruang mukabumi, dipresentasikan- ditampilkan- divisualkan dalam bentuk peta geografi. Hasil analisis spasial; deskripsi spasial, hubungan spasial, aura spasial, perbandingan spasial; juga dipresentasikan dalam bentuk peta geografi yang kerinciannya bergantung kepada skala peta. Materi pembelajaran geografi di sekolah terbentang dari litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, sampai antroposfer, seharusnya berbasis perspektif spasial pula. Maka pembelajaran geografi atas substansi apapun disampaikan menggunakan peta geografi yang relevan dengan substansinya itu.

Menengok pemikiran Preston E. James & CF Jones, editor American Geography Inventory and Prospect (AGIP) dan kontributor lainnya, sejak pertengahan dasawarsa limapuluhan abad lalu, tegas mengemukakan ciri spasial geografi sebagai berikut :

  • Today as in the past, geography is concerned with the arrangement of things on the face of the earth, and with the association of things that give character  to particular places, (AGIP – 1954: 4)
  • Almost all scholars who have thought deeply about the nature of geography agree on the essential unity of the field. Actually, there is just one kind of geography. (P.E James – Richard Hartshorne – J.R. Wright – AGIP 1954: 15).
  • In geography, the subject of investigation and presentation is the area differentiation of the face of the earth. Geography focuses on the similiarities and differences among areas, on the interconnections and movements between areas, and on the order found in the space at or near the earth’s surface. ( The Regional Concept etc. AGIP 1954: 21).
  • The geographic method of studying soils requires the identification of kinds of soils and the mapping of areal spread of these type. (AGIP, 1954 :383)
  • Fitogeografi

Geographers characteristically, record on maps their observations regarding patterns of distribution, and the maps in turn, are used for the study of areal relation. (AGIP, 1954 : 429-430)

  • Economics geography has to do win similiarities and diferences from place to place in the ways people make living … (AGIP,1954:214)
  • Marketing Geography

… in studying markets, the geographer is primarily concerned with where the markets are. He is interested in the distribution of individual consumers and in the magnitude of actual potential sales within specific areas. … in the study of channels of distribution on marketing geographer is primarily concerned, again, within the location of these channels.

… The mapping of relevant data regarding markets and the marketing process is a contribution in it self. (AGIP, 1954: 245-251)

  • Transportation geography

… Transportation is a measure of the relations between areas and is therefore an essential aspect of geography … Geography is concerned with all connections and interractions, including communication and transportation … For geographers who view the core of geography as primarily the analysis of  spasial interaction, the study of transportation and in the boarder sense, of circulation as a whole, is of crucial importance. (AGIP, 1954:311)

  • Historical Geography. Any study of past geography or of geographical change through time is historical geography, whether the study be involved with cultural, physical, or biotic phenomena and however limited it may be in topic or area. (Andrew H. Clark Chairman on Historical Geography, AGIP – 1954: 71).
  • Urban Geography. Geographers are concerned with the study of cities, because urban centres constitute distinctive areas. They are the face of the general patterns of settlement; they are populated to a density rarely encountered in rural  areas; they are the portals through which the spatial interchange of goods and ideas connects region with region; they dominate the the patterns of eonomic life.etc. (H.M. Mayer; E.L. UI Iman; Robert E. Dickinson; Ch.D. Harris; Clyde F. Kohn; Raymond E. Murphy; Victor Roterus-AGIP-1954 :143)
  • Agricultural Geography. Generally speaking, if an American geographer has been concerned with measures to increase the supply of wheat, he has though first of all in terms of producing wheat rather than buying it. He has then studied natural and social conditions in areas devoted to wheat production and, whit that evidence in hand, has set about discovering other areas in which there conditions prevail, or could be established, in order to determine where new supplies of wheat might be obtained. Analitical studies in agricultural geography even when dealing with one commodity, have nearly always been concern with particular areas. (AGIP1954: 260)

Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besarnya, Sandy mengemukakan bahwa: Geografi itu adalah ilmu yang berusaha menemukan dan memahami persamaan-persamaan dan perbedaan yang ada dalam ruang mukabumi. (Sandy, 1988: 6)

Sebuah buku geografi lain yang dipublikasikan masa kini (e-book) juga nampak masih mengamini pemikiran-pemikiran geograf pertengahan abad lalu itu seperti:

  • Geography is the study of the distributions and interrelationships of earth phenomena. Geographers describe their discipline as a spatial science. That is, geographers are concerned with answering questions about how and why earth phenomena vary across the Earth. For instance, geographers investigate patterns of vegetation as they relate to distributions of climate, soils and topography.

(http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ritter/geog101/textbook/content.html)

PERFORMA GURU GEOGRAFI YANG DIHARAPKAN

Selain kompetensi sosial dan kompetensi kepribadiannya baik, guru geografi yang ideal adalah guru geografi yang bisa mengajar geografi. Undang-undang No. 20/2003 tentang SISDIKNAS mengamanatkan untuk melalui pendidikan, kita mengantarkan peserta didik menjadi manusia Indonesia seutuhnya, terdidik lengkap, terasah penalaran-etika-estetikanya secara baik, bermoral dan berkarakter kuat, mampu berpikir orisinil kreatif untuk menjadi Warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Penyelenggaraan pendidikan dipandang sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik (lihat pasal 3 UU No. 20/2003).

Terminologi pengajaran sudah lama diganti pembelajaran yang bermakna lebih luas memberikan peran kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas. Dalam konteks pembelajaran geografi, strategi untuk memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya berangkat dan berawal dari keutuhan konsep (yang dikuasai guru) yang diturunkan pada materi pembelajaran dalam kemasan yang menarik. Kalimat sederhananya adalah guru geografi menguasai substansi pembelajaran geografi dan mampu membelajarkan geografi.

Seperti diketahui spatial inteligence; di samping linguistic intelligencelogical-mathematical intelligencebodily-kinesthetic intelligencemusical intelligence, interpersonal intelligence,intrapersonal intelligencenaturalist intelligence yang diinternalisasikan melalui pembelajaran matematika, fisika, kimia, musik dan pelajaran seni lainnya, olahraga, budi pekerti; ikut membangun dan mengembangkan peserta didik ke arah manusia yang terdidik lengkap. (Sandy, 1988., Armstrong, 1994).

Pada workshop Program Pendidikan Profesi Guru (Program PPG) di Jakarta 5- 8 Nopember 2010 dalam kelompok mata pelajaran geografi, wacana revitalisasi aspek konten atau isi-substansi geografi menjadi rasanan beberapa peserta workshop yang saat itu menggarap penyusunan kurikulum dan sistem pembelajaran, pengembangan perangkat pembelajaran PPG, perangkat RPP dan PPL dan sebagainya. Kesadaran pentingnya aspek bahan ajar ini mengemuka antara lain karena banyak dijumpainya konsep yang keliru pada buku ajar yang ada. Jadi pembekalan substansi bidang studi pada Program Studi P. Geografi (sekolah guru geografi) adalah awal upaya penguasaan kompetensi profesional yang harus digulawentah lebih serius.

Substansi pembelajaran geografi yang tertuang dalam SK/ KD seharusnya mengacu atau menginduk kepada cabang-cabang ilmu geografi seperti pada gambar berikut:

Gambar 1. The Continuum of Geography

Ritter, ME. The Physical Environment An Introduction to Physical Geography

Sumber: http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ritter/geog101/textbook/content.html

Substansi geografi memang dapat overlap dengan bidang ilmu lain. Konsep- konsep di Soil Geography overlap dengan konsep-konsep di Pedology (Gambar 1), ……ada overlap konsep-konsepBotany dan Zoology dengan konsep-konsep Biogeography, ada overlap konsep- konsepDemography dengan konsep- konsep Population Geography. Yang membedakan adalah (dan ini merupakan identitas geografi) sudut pandang spasial. Geografi menelaah semua substansinya dari sudut pandang spasial. Geografi Ekonomi dan Ilmu Ekonomi memiliki kemiripan substansi, yang membedakan adalah geografi ekonomi menelaah substansi itu dari pandangan spasial (Chislom, 1970). Demikian pula geografi tumbuhan (phythogeography) dan botani, geografi transportasi dan ilmu transportasi serta menejemen transportasi (James and Jones, 1967). Pandangan spasial inilah yang mengharuskan penggunaan peta sebagai visualisasi hasil kajiannya. Peta tersebut adalah peta geografi (Lihat peta geografi: http://www.partosohadi.staff.fkip.uns.ac.id).

Maka pembelajaran geografi menggunakan peta geografi sebagai media utama untuk sosialisasi konsep spasial, apapun bahan ajarnya (amanah SK/ KD). Tetapi di sekolah saat ini guru geografi hanya membelajarkan peta sebagai pengetahuan.

UPAYA MENYEMAI KEMAMPUAN BERFIKIR SPASIAL

Kerja Geografi adalah menarik garis atas kesamaan karakteristik objek, fenomena, potensi, masalah, pada ruang mukabumi atau model visualnya (peta atau citra) menjadi region geografik atau wilayah geografik. Harold M. Mayer mengemukakan: Although every places is unique, there are many attributes that, individualy and in combination, characterize groups of places. Geographers are concerned not only with unique characteristics of places but also with those that they have in common. In order to measure the common characteristics of places as well as their differences, it is necessary to develop classifications of places. This process, regionalization, is analogous to the taxonomic schemes in other disciplines, in which phenomena are grouped in accordance with threir relative similarities (Frazier, 1982:27).

Menggunakan Informasi Geospasial Dasar (Pasal 1: 5) yang terekam dalam peta RBI (Pasal 1: 12) sejak semester 2 mahasiswa dilatih menarik garis (proses regionalisasi) menghasilkan wilayah aliran sungai (DAS), wilayah lereng, wilayah ketinggian, wilayah konfigurasi mukabumi (morfologi), wilayah penggunaan lahan, dan sebagainya dan seterusnya. Kegiatan ini merupakan sebentuk oprasionalisasi Areal likenesses concept; Areal differences; Areal uniquenes concept; Regional concept. Analisis arragemen wilayah-wilayah geografik dalam sebuah landscape sebagai sebentuk oprasionalisasi Areal distribution concept. Analisis kaitan wilayah geografik dengan wilayah geografik yang lain sebagai sebentuk oprasionalisasi area relationship concept. Latihan yang sama dengan Informasi Geospasial Dasar citra pengeinderaan jauh dilatihkan di semester 6. Kegiatan latihan tersebut ditopang oleh SIG Lanjut (semester 5) dan SIG Terapan (semester 7). Hasil latihan ini adalah peta-peta geografi tema tunggal maupun peta geografi tema jamak (kompleks wilayah) dengan mengacu kaidah-kaidah kartografis merupakan sebentuk aplikasi Round earth on flat paper concept.

Implementasi kegiatan tersebut ada pada kegiatan menyiapkan perangkat pembelajaran geografi pada matakuliah pengajaran mikro (semester 6) seperti akses ke sumber belajar, konstruksi media pembelajaran, konstruksi evaluasi pembelajaran, menyusun bahan ajar untuk SMP dan SMA beserta kerangka konsepnya.

Implementasi berikutnya ada pada kegiatan menulis tugas akhir seperti diilustrasikan pada abstrak skripsi berikut:

Abstrak Skripsi Abidin: Alenia ke- 2

Abidin Dwi Sulistiyono. EVALUASI KESESUAIAN LAHAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG DI DAS GRINDULU HULU KABUPATEN PACITAN DAN PONOROGO TAHUN 2009. Skripsi, Surakarta: Prodi P. Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret, Oktober 2010.

Tujuan penelitian ………………………….. dst.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif spasial dengan satuan lahan sebagai satuan analisisnya. Satuan lahan diartikan sebagai ruang mukabumi yang dipetakan berdasar karakteristik lahan tertentu. Dalam penelitian ini, satuan lahan diperoleh dari tumpang susun antara Peta Tanah, Peta Lereng, Peta Geologi dan Peta Penggunaan Lahan. Populasi terdiri dari 44 satuan lahan, sampel diambil dengan teknik sampel wilayah (area sampling) dengan jumlah 20 sampel yang tersebar di DAS Grindulu hulu. Teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dan analisis laboratorium. Teknik analisis data untuk mengetahui subkelas kesesuaian lahan adalah dengan sistem mencocokkan (matching) antara persyaratan tumbuh tanaman jagung dengan kualitas dan karakteristik lahan sehingga menghasilkan Peta Subkelas Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Jagung. Data produksi jagung yang diperoleh dari wawancara dengan penduduk pada satuan lahan yang mempunyai penggunaan lahan jagung, data ditabulasi dan dianalisis untuk mengetahui produktivitas lahan di daerah penelitian, kemudian dikelaskan sehingga menghasilkan Peta Produktivitas untuk Tanaman Jagung. Dari hasil penelitian ini dikemukakan saran berupa Peta Pengelolaan Lahan Tanaman Jagung.

Alinea ke- 3 dst.

Abstrak skripsi Yaskinul: Alenia ke- 2

Yaskinul Anwar. ALIH FUNGSI LAHAN DI KECAMATAN JATEN TAHUN 2004 – 2011. Skripsi, Surakarta: Prodi P. Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret, Maret 2012.

Tujuan penelitian ………………………….. dst.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif spasial dengan wilayah struktur ruang kota sebagai satuan analisisnya. Variabel penelitian berupa, 1) penggunaan lahan tahun 2004, 2006, 2008, 2011, 2) gaya grafitasi, 3) aksesbilitas lahan, 4) utilitas umum, direpresentasikan dalam bentuk Peta Penggunaan Lahan Tahun 2004, 2006, 2008, dan 2011, Peta Gaya Grafitasi, Peta Aksesbilitas Lahan dan Peta Utilitas Umum. Teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis untuk mengetahui alih fungsi lahan dan hubungan alih fungsi lahan dengan faktor – faktornya, menggunakan analisis  overlay data penggunaan lahan pada setiap periode sehingga menghasilkan Peta Alih Fungsi Lahan tahun (2004 – 2006, 2006 – 2008, 2008 – 2011), Peta Pola Alih Fungsi Lahan Tahun 2004 – 2011, Peta Hubungan Aksesbilitas Lahan dengan Alih Fungsi Lahan, Peta Hubungan Utilitas Umum dengan Alih Fungsi Lahan. dari hasil penelitian dikemukakan saran yang dipresentasikan dalam bentuk peta rekomendasi yaitu Peta Saran Aksesbiltas dan Utilitas Umum.

Alinea ke- 3 dst.

CATATAN PENUTUP

  • Pemahaman konsep spasial sebagai identitas ilmu geografi  adalah kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa untuk bekal menjadi guru geografi profesional. Dengan demikian ia akan mampu (melalui bahan ajar yang disampaikan) membekali peserta didik (pada tingkat satuan pendidikan) kemampuan berfikir spasial.
  • Dengan kemampuan berfikir spasial, insan terdidik kita,  memahami variasi objek, fenomena, potensi, masalah yang ada di ruang mukabumi beserta atribut, karakter dan warna wataknya. Kedalamannya bergantung kepada jenjang apa ia menyelesaikan pendidikannya. Ujung dari pemahaman ini ia akan memiliki sikap dan perilaku yang dapat diharapkan mampu memperlakukan, memanfaatkan, merawat dan menjadi pemelihara mukabumi sebagai pengemban amanah wakilnya Al-Wakiil/ Sang Pemelihara. (QS. Ar- Rahman: 1- 12)
  • Pembelajaran geografi menggunakan peta sebagai media utama dalam upaya internalisasi konsep-konsep geografi oleh guru kepada siswa.
  • Implementasi penggunaan peta sebagai media pembelajaran sepatutnya-lah memperhatikan tingkatan pendidikan siswa dan hal ini menyangkut desain simbol.
  • Kemajuan teknologi informasi membawa pengaruh pula dalam bidang teknologi informasi geospasial ibarat rahmat (blessing) yang dapat dimanfaatkan secara langsung untuk penyiapan peta geografi, termasuk akses ke sumber informasi geospasial.
  • Cukup merepotkan guru geografi di sekolah adalah kenyataan bahwa kurikulum dan buku ajar kurang mendukung. Dari segi kurikulum nampak bahwa beberapa indikator (turunan SK dan KD) masih di luar pagar esensi atau filosofi geografi. Hal ini kiranya perlu perhatian serius organisasi profesi geografi.

DAFTAR PUSTAKA

Ackerman, Edward A. 1958. Geography As A Fundamental Research Dicipline. Research Peper No. 53.  Chicago- Illinois : Department of Geography The University Of Chicago.

Anwar, Yaskinul. 2012. Alih Fungsi Lahan Di Kecamatan Jaten Tahun 2004 – 2011Skripsi. Prodi P. Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret. (Tidak diterbitkan)

Armstrong, Thomas. 1994. Multiple Intellegences in the Classroom. Virginia : Ass.for Supervision and Curriculum Development.

Frazier, John W (ed.). 1982. Applied Geography Selected Perspectives. Englewood Cliffs, N.J. 07632: Prentice-Hall, Inc

James, Preston S. & Clarence F. Jones (ed). 1954. American Geography Inventory & Prospect. Publish for the Associations of American Geographers: Syracuse University Press

Sandy, I Made. 1988. GEOGRAFI Perkembangannya di Indonesia dan Pelajaran Geografi di Sekolah Lanjutan. Pidato Pengukuhan Dalam Jabatan Guru Besar Luar Biasa Mata Pelajaran Geografi Pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Jakarta. 30 Maret 1988

Seminar dan Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran Geografi. IKIP Semarang bekerja dengan IGI. Semarang 12-13 April 1988.

Sulistiyono, Abidin Dwi. 2010. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Produktivitas Tanaman Jagung di DASGrindulu Hulu Kabupaten Pacitan dan Ponorogo Tahun 2009Skripsi. Prodi P. Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret. (Tidak diterbitkan)

The Ad Hoc Commite on Geography- Earth Sciences Division. 1958. Publication 1277. Washington DC: National Academy On Sciences- National Research Council. The Sciences of Geography.

http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ritter/geog101/textbook/content.html

http://www.partosohadi.staff.fkip.uns.ac.id

Sertifikat Pendidik

S. Efiaty

Gambar Contoh Sertifikat Pendidik

Di dalam Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 nomor 12 dijelaskan bahwa Sertifikat Pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Sertifikat pendidik merupakan hal yang paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini.

 

  1. Jalur Sertifikasi Guru:

(1)   Jalur Pendidikan

Sertifikasi Guru Jalur Pendidikan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah. Di dalam sisdiknas dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional. Untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana atau Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.

Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal S1/D-IV dibuktikan dengan ijazah dan pemenuhan persyaratan relevansi mengacu pada jejang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina. Misalnya, guru SD dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Studi PGSD/Psikologi/Pendidikan lainnya, sedangkan guru Matematika di SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Pendidikan Matematika atau Program Studi Matematika yang memiliki Akta IV. Pemenuhan persyaratan penguasaan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi.

 

Tujuan sertifikasi guru adalah untuk membantu Rayon LPTK yang ditugaskan sebagai penyelenggara sertifikasi untuk melakukan penguatan-penguatan dalam sistem kelembagaannya.

 

(2)   Jalur Portofolio

Sertifikasi guru pola PF diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang:

(a)    memiliki prestasi dan kesiapan diri untuk mengikuti proses sertifikasi melalui pola PF

(b)   tidak memenuhi persyaratan dalam proses pemberian sertifikat pendidik secara langsung (PSPL).

Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan berkas yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup:

(a)      kualifikasi akademik

(b)      pendidikan dan pelatihan

(c)      pengalaman mengajar

(d)     perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran

(e)      penilaian dari atasan dan pengawa

(f)       prestasi akademik

(g)      karya pengembangan profesi

(h)      keikutsertaan dalam forum ilmiah

(i)        pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial

(j)        penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

 

 

  1. Tujuan Sertifikasi Guru:

(1)   menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik professional

(2)   meningkatkan proses dan hasil pembelajaran

(3)   meningkatkan kesejahteraan guru

(4)   meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

 

Sertifikasi guru diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil (swasta).

 

Di beberapa negara, sertifikasi guru telah diberlakukan, misalnya di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Di Denmark kegiatan sertifikasi guru baru dirintis dengan sungguh-sungguh sejak tahun 2003. Memang terdapat beberapa negara yang tidak melakukan sertifikasi guru, tetapi melakukan kendali mutu dengan mengontrol secara ketat terhadap proses pendidikan dan kelulusan di lembaga penghasil guru, misalnya di Korea Selatan dan Singapura. Semua itu mengarah pada tujuan yang sama, yaitu berupaya agar dihasilkan guru yang bermutu.

 

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sertifikasi guru tahun 2007 dan 2008, khususnya untuk penyelenggaraan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio masih ditemukan sejumlah kendala yang dapat menghambat proses pelaksanaan sertifikasi. Kendala ini umumnya terkait dengan sistem kelembagaan Rayon LPTK terkait, misalnya hubungan kemitraan antara PT induk dengan mitra yang kurang harmonis, kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki PT untuk penyelenggaraan sertifikasi, dan keragaman pemahaman atau interpretasi asesor terhadap rubrik penilaian portofolio serta pola pelaksanaan sertifikasi. Untuk itu, dipandang perlu adanya bantuan dari departemen yang menaunginya. Bantuan ini dapat gulirkan dalam bentuk hibah nonkompetitif yang berbasis pada kebutuhan LPTK.

 

  1. Latar Belakang Munculnya Sertifikasi Guru:

(1)      Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(2)      Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

(3)      Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan

 

  1. Dasar hukum pelaksanaan sertifikasi guru adalah sebagai berikut.

(1)   Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(2)      Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

(3)      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

(4)      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar

Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

(5)      Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru

(6)      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi

bagi Guru dalam Jabatan yang sedang dalam proses perubahan Kepmendiknas yang

baru.

(7)      Peraturan Mendiknas Nomor 40 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan

melalui Jalur Pendidikan.

(8)      Keputusan Mendiknas Nomor 056/O/2007 tentang Pembentukan Konsorsium

Sertifikasi Guru (KSG).

(9)      Keputusan Mendiknas Nomor 057/O/2007 tentang Penetapan Perguruan Tinggi

Penyelenggara Sertifikasi Guru dalam Jabatan yang sedang dalam proses perubahan

Kepmendiknas yang baru.

 

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu    Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Syawal Gultom menyatakan optimistis proses sertifikasi guru akan selesai tahun 2013. Menurut beliau, target ini lebih cepat dua tahun dari yang diagendakan. Syawal menjelaskan, guru yang mengajukan sertifikasi pada 2010 mencapai 2.791.204 orang. Pada tahun 2011, sedikitnya ada 1.102.021 guru yang telah disertifikasi.

 

Jumlah 1.102.021 guru yang disertifikasi berasal dari 746.727 guru yang disertifikasi pada 2010, ditambah sisanya yang berasal dari proses sertifikasi tahun 2011. Tahun 2010, dari 746.727 guru yang disertifikasi, sedikitnya ada 731.002 atau sekitar 97,9 persen guru yang tunjangan profesinya telah dibayarkan. Sampai dengan 2011, ada sekitar 961.688 guru yang tidak lolos seleksi sertifikasi.  Berdasarkan fakta-fakta tersebut menurut saya proses sertifikasi guru akan selesai dua tahun lagi. Setelah melewati berbagai seleksi, saya rasa tidak semua guru dari jumlah sekitar 900.000 itu akan lolos semua.

 

Ada beberapa kendala yang menyebabkan guru-guru tersebut tidak lolos seleksi sertifikasi, misalnya tidak memenuhi syarat karena belum mendapatkan gelar sarjana (S-1) ataupun belum berusia minimal 50 tahun dan telah memiliki masa kerja selama 20 tahun.

 

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, menurut Syawal, proses sertifikasi guru akan selesai dua tahun lagi. Setelah melewati berbagai seleksi, dirasa tidak semua guru dari jumlah sekitar 900.000 itu akan lolos semua. Yang terpenting dari proses sertifikasi guru adalah melakukan seleksi yang lebih adil dan akuntabel dengan mendahulukan orang-orang yang memang memiliki kemampuan lebih baik atau waktu mengabdi lebih lama.

 

Sebelumnya dirilis, menurut rencana, pada tahun 2012 ada 300.000 guru yang akan disertifikasi. Sejak dimulai tahun 2007, terdapat 1.101.552 guru yang telah mengikuti sertifikasi. Dari 2.925.676 jumlah total guru pada tahun 2011, sekitar 746.727 guru di antaranya (25,5 persen) telah bersertifikat. Dari guru bersertifikat itu, 731.002 guru (97,9 persen) telah menerima tunjangan profesi.

Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pada Pasal 12 dinyatakan bahwa setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu. Kemudian pada pasal 13 dijelaskan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.  Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

 

Selain sertifikasi guru juga terdapat Sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diberikan setelah memenuhi syarat sebagai berikut:

(1)      memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada perguruan tinggi sekurang-

kurangnya 2 (dua) tahun;

(2)      memiliki jabatan akademik sekurang-kurangnya asistenahli; dan

(3)      lulus sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan

program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi yang ditetapkan oleh

Pemerintah.

Pemerintah menetapkan perguruan tinggi yang terakreditasi untuk menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan. Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penetapan perguruan tinggi yang terakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Di dalam pasal 48 dijelaskan status dosen terdiri atas dosen tetap dan dosen tidak tetap, dan jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.

Pelatihan E-Journal UNS

S. Efiaty

E-Journal adalah publikasi dalam format elektronik dan mempunyai ISSN (International Standard Serial Number). E-Journal dapat diakses melalui beberapa alamat berikut ini:
1. ProQuest, dengan alamat URL search.proquest.com dan meliputi Bidang Ilmu:
     a. MIPA/Science
     b. Sosial
     c. Pertanian
2. EBSCO, dengan alamat URL search.epnet.com dan meliputi bidang:
     a. Ekonomi
     b. Kesehatan
3. Cengage, dengan alamat URL infotrec.galegroup/itweb dan meliputi bidang:
     a. Seni, Teknik, dan Sosial
     b. Humaniora dan Pendidikan
Isi e-journal biasanya berupa:
¤Artikel ilmiah (hasil penelitian atau bukan penelitian)
¤Review buku/karya ilmiah
¤Proseding conference
Format dokumen e-journal biasanya berupa:
¤HTML
¤PDF
see more

Sertifikasi

S. Efiaty

Di dalam Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 nomor 11 dijelaskan bahwa Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Kata sertifikasi ini sangat sering kita dengar akhir-akhir ini. Sertifikasi yang paling sering kita dengar sekarang ini adalah yang berkaitan dengan profesi pendidik, baik guru maupun dosen.

Dalam perbincangan sehari-hari sangat sering kita dengar sekelompok orang sedang membicarakan tentang sertifikasi. Bahkan hal-hal yang terkait sertifikasi selalu ada dalam berita di surat kabar atau media lainnya. Hal yang termasuk heboh adalah pembircaaan tentang sertifikasi guru. Beberapa perbincangan yang sering kita dengar dan lihat antara lain: teman saya selalu heboh jika bulan pemberkasan telah datang, pada awal semester terjadi rebutan jam mengajar (padahal dahulu rebutan menghindari jam mengajar yang banyak), teman saya membuat surat kesepakatan dengan teman kerja untuk membagi hasil sertifikasi, saudara saya sibuk menghadapi sertifikasi, sampai-sampai minta doa restu ke saudara agar bisa lolos sertifikasi, teman saya mendaftar haji karena adanya sertifikasi.

Padahal kata sertifikasi pada mulanya tidak seheboh sekarang, apalagi dampaknya. Dulu kata sertifikasi hanya melambangkan adanya pengakuan terhadap seseorang atau lembaga yang karena melalui suatu akivitas maka mendapatkan sertifikat, dimana sertifikat tersebut akan memperkuat kedudukan seseorang atau lembaga yang menerma sertifikat tersebut. Misal sertifikasi seorang lulusan universitas yang kuliah lagi pada perguruan tinggi keguruan, sehingga dia punya legalitas untuk menjadi seorang guru. Seorang lulusan jurusan akuntansi kemudian melanjutkan pada jurusan profesi akuntansi maka dia akan memperoleh sertifikat sebagai akuntan dan contoh lainnya. Ada juga bagi lembaga yang mendapat sertifikasi Standar Chain Of Custody, Standar ISO 9001, Standar ISO 14001, Standar Sustainable Forest Management.

Lalu apa sebenarnya Sertifikasi ? Motivasi melakukan sertifikasi sangat beragam, ada yang melakukan sertifikasi karena persyaratan/Standar dari pemerintah (seperti sertifikasi guru), atau persyaratan/standar pembeli/cutomer atau persyaratan/standar pemilik lisensi produk atau untuk meningkatkan kompetensi atau image

Sebenarnya apa sih sertifikasi ? Coba kita pahami dari sudut definisi bahasa, kita mulai dari bahasa Inggris , karena kata sertifikasi berasal dari bahasa Ingris, yaitu certification dengan arti keterangan, pengesahan, ijazah, sertifikat, brevet, diploma, keterangan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, arti sertifikasi sangat sederhana yaitu penyertifikatan.

Sertifikasi merupakan suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik. Sertifikasi biasanya harus diperbaharui secara berkala, atau dapat pula hanya berlaku untuk suatu periode tertentu. Sebagai bagian dari pembaharuan sertifikasi, umumnya diterapkan bahwa seorang individu harus menunjukkan bukti pelaksanaan pendidikan berkelanjutan atau memperoleh nilai CEU (continuing education unit).

Pengertian sertifikasi banyak disusun oleh berbagai lembaga terkait sertifikasi, baik pemerintah , lembaga international atau lembaga kerjasama antar Negara. Salah satu yang bisa diacu adalah istilah dari International Institute for Environment Develpoment (IIED), pengertian sertifikasi adalah Prosedur dimana pihak ketiga memberikan jaminan tertulis bahwa suatu produk, proses atas jasa telah memenuhi standar tertentu, berdasarkan audit yang dilaksanakan dengan prosedur yang disepakati. Sertifikasi berkaitan dengan pelabelan produk untuk proses komunikasi pasar. (http://www.iied.org/)

Dalam konteks tandar ISO 9001:2000 (and ISO 9001:2008) or Standar ISO 14001:2004, “certification” refers to the issuing of written assurance (the certificate) by an independent external body that it has audited a management system and verified that it conforms to the requirements specified in the standard, yang maksudnya bahwa “Sertifikasi” mengacu pada penerbitan jaminan tertulis (sertifikat) oleh badan eksternal independen yang telah diaudit sistem manajemen dan memverifikasi bahwa itu sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dalam standar (http://www.iso.org)

Gambar1: Contoh bukti sertifikasi

Berbeda lagi dengan Ikatan ahli Geologi Indonesia, yang memiliki perangkat sebuah komisi sertifikasi, menetapkan pengertian sertifikasi sebagai berikut : Yang dimaksud dengan sertifikasi disini adalah standarisasi secara profesional bagi mereka yang kompeten di bidang pekerjaan masing-masing yang dikelola dan dibina oleh Organisasi Profesi bukan Pemerintah. Sertifikasi ini memenuhi persyaratan kualitas profesional yang sudah ditetapkan.( http://sertifikasi.iagi.or.id/)

Dari berbagai penjelasan tentang sertifikasi maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sertifikasi (padan kata dari penyertifikatan) adalah legalitas terhadap seseorang atau lembaga yang karena telah melakukan aktivitas sehingga memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai standar sehingga kepadanya diberikan bukti berupa sertifikat. Jadi yang dimaksud dengan sertifikasi pendidik yang sering kita perbincangkan akhir-akhir ini adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen.

GALABO (Gladag Langen Boga)

S. Efiaty

Galabo (Gladag Langen Bogan) adalah sebuah kawasan di sudut timur kota Solo, tepatnya di ujung timur Jl. Brigjend Slamet Riyadi, tepat di timur bunderan Gladag. Galabo merupakan alternatif wisata kuliner di malan hari. Di sini tempat dikumpulkannya berbagai jenis kuliner khas Solo mulai dari makanan ringan hingga makanan berat seperti nasi liwet, gudeg ceker, nasi rawon, nasi timlo, tengkleng dsb. Pada siang hari tempat ini terlihat kurang menarik, karena letaknya yang tepat di depan Pusat Grosir Solo (PGS) yang terkesan semrawut dengan mobilitas kendaraan berbagai jenis bercampur jadi satu. Yang makan di siang haripun jauh dari kesan romantis, karena sebagian besar adalah pedagang yang berjualan di PGS dan pembeli dari berbagai daerah di sekitar Solo dan dari seluruh pelosok tanah air, seta beberapa turis asing. Namun demikian pemandangan seperti disulap oleh pesulap handal begitu temaram mulai merayap. Dengan suasana lampu yang tidak begitu terang, payung-payung gazebo warna-warni, hamparan tikar di trotoar bagian selatan serta warung-warung lesehan dengan aneka jenis masakan yang memanjakan para pengunjung, maka kitapun dibuat betah untuk duduk berlama-lama. Apalagi apabila datang pengamen dengan suara dentingan gitarnya mengalunkan lagu-lagu romantis, maka kita seolah dibuai oleh rayuan merdu seorang pujangga ternama. Menikmati makanan kesukaan kita bersama orang yang kita cintai maka kitapun tidak akan ragu merogoh kocek kita berapapun jumlahnya demi sebuah rasa yang teramat nyaman. Jika Anda belum pernah mencoba, maka segeralah menyusun sebuah skedul untuk mencobanya, dan jangan lupa mengunjungi tempat-tempat lainnya yang tersebar di seluruh sudut kota Solo.

Konsep Pendidikan Seumur Hidup

S. Efiaty

Konsep pendidikan seumur hidup ini erat kaitannya dengan paham tentang waktu berlangsungnya pendidikan. Di dalam GBHN 1978 dinyatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
Pembahasan tentang konsep pendidikan seumur hidup ini akan diuraikan dalam dua bagian yaitu ditinjau dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuridisnya.
  1. Dasar Teoritis/ Religious
Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir. Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup,salah satu fungsi sosial,sebagai bimbingan ,sebagai sarana pertumbuhan ,yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.transmisi baik dalam bentuk informasi, formal, maupun non formal.[1]
Hal ini berarti setiap manusia indonesia diharapkan supaya selalu berkembang sepanjang hidup, dan dilain pihak masyarakat dan pemerintah diharapkan agar dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar.
Menurut para Ahli modern, Pendidikan adalah mengadakan pengaruh dengan bermacam-macam pengaruh yang di pilih dengan sengaja untuk menolong anak-anak supaya meningkat kemajuan jasmani,akhlaknya,sehingga sampai dengan berangsur-angsur ketingkat kesempurnaan yang mungkin di capai ,supaya anak –anak itu berbahagia dalam kehidupan perseorangan dan kemasyarakatan .Dan semua amal perbuatan yang di kerjakan nya lebih sempurna dan lebih baik dan berguna untuk masyarakat.[2]
Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak –anak untuk memimpin  perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Pendidikan juga berarti lembaga dan usaha pembangunan bangsa dan watak bangsa. Pendidikan yang demikian mencakup ruang lingkup yang komprehensif,yakni pendidikan mental pikir(rasio,intelek),kepribadian manusia seutuhnya,untuk membina kepribadian demikian jelas memerlukan rentangan waktu yang relatif panjang bahkan seumur hidup
Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas,tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja,tetapi mencakup juga yang formal.
Secara umum pendidikan dapat di artikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.Dengan demikian,bagaimana pun sederhananya peradaban suatu masyarakat,di dalamnya pasti terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang paradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.[3]
Bagi manusia pemenuhan kebutuhan jasmani saja belumlah cukup jika tanpa pemenuhan kebutuhan rohani. Kebutuhan rohani bagi manusia dalam kehidupannya menjadi sangat penting karena tiada terpenuhinya kebutuhan rohani itu akan menimbulkan kegelisahan batin. Salah satu untuk memenuhi kebutuhan rohani adalah agama. Dengan agama akan dapat mengimbangi gejolak manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani yang condong untuk selalu menuntut untuk di penuhi.
 Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad”
Bagi umat islam,agama merupakan dasar utama dalam mendidik anak-anaknya melalui sarana-sarana pendidikan. Karena dengan menanamkan nilai-nilai agama akan membantu terbentuknya sikap dan kepribadian anak kelak pada masa dewasa. Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan kegiatan hidup yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita,tiada batasan untuk memperolehnya,dan berlangsung seumur hidup semenjak buaian hingga ajal.
Menurut Ki Hajar Dewantara konsepsi pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup ini merupakan orientasi baru yang mendasar dengan kebijakan tanpa batas –batas umur dan batas waktu belajar, maka kita mendorong supaya tiap pribadi sebagai  sebagai subyek yang bertanggung jawab atas pendidikan diri sendiri. Inilah konsep –konsep kunci pendidikan seumur hidup:
  1. Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri. Sebagaimana suatu konsep, maka pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.
  2. Konsep belajar seumur hidup dalam pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respons terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar.
  3. Konsep belajar seumur hidup. Belajar seumur hidup dimaksudkan adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup,melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi peroblema dan terdorong tinggi sekali untuk belajar di seluruh tingkat usia,dan menerima tantangan dan perubahan seumur hiudp sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
  4. Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup.Dalam konteks ini,kurikulum didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup.
  1. Dasar Yuridis
Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui :
Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
 Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang).
 Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,kesehatan jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiri,serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989,penegasan tentang pendidikan seumur hidup,dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga,sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama,nilai budaya,nilai moral dan keterampilan”.
Philip H.Coombs mengklasifikasikan pendidikan ke dalam tiga bagian,yaitu pendidikan informal (pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan),pendidikan formal (pendidikan sekolah),dan pendidikan non formal (pendidikan luar sekolah yang dilembagakan).
1.      Pendidikan Luar Sekolah yang Tidak Dilembagakan
Pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar,pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.
2.      Pendidikan Sekolah
Pendidikan sekolah adalah pendidikan di sekolah, yang teratur, sistematis,mempunyai jenjang dan yang dibagi dalam waktu-waktu tertentu yang berlangsung dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
3.      Pendidikan Luar Sekolah yang Dilembagakan
Pendidikan luar sekolah yang dilembagakan adalah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan berencana di luar kegiatan persekolahan. Pendidikan luar sekolah yang dikembangkan bersifat fungsional,praktis,dan pendekatannya lebih fleksibel serta luas dan terintegrasi.
Calon peserta didik pendidikan luar sekolah yang dilembagakan,yaitu :
a.       Penduduk usia sekolah yang tidak pernah mendapat keuntungan/kesempatan memasuki sekolah.
b.      Orang dewasa yang tidak pernah bersekolah.
c.       Peserta didik yang putus sekolah (drop-out),baik dari pendidikan dasar,menengah dan pendidikan tinggi.
d.      Peserta didik yang telah lulus satu sistem pendidikan sekolah,tetapi tidak dapat melnjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
e.       Orang yang telah bekerja,tetapi ingin menambah keterampilan lain.
Dasar pendidikan seumur hidup bertitik tolak atas keyakinan bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup,baik di dalam maupun di luar sekolah.[4]
Ada bermacam-macam dasar pemikiran yang menyatakan bahwa pendidikan seumur hidup sangat penting. Dasar pemikiran tersebut ditinjau dari beberapa segi, antara lain :
1)      Ideologis
Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan serta keterampilannya. Pendidikan seumur hidup akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
2)      Ekonomis
Cara yang paling efektif untuk keluar dari lingkungan kebodohan yang menyebabkan kemelaratan ialah melalui pendidikan.
3)      Sosiologis
Para orang tua dinegara berkembang kerap kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya. Karena itu, anak-anak mereka sering kurang mendapatkan pendidikan sekolah, putus sekolah atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian, pendidikan seumur hidup bagi orang tua akan merupakan pemecahan atas masalah tersebut
4)      Politis
Pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang karena pada negara demokrasi hendaknya seluruh rakyat menyadari pentingnya hak milik,dan memahami fungsi pemerintah, DPR,MPR dan lain-lain.
5)      Teknologis
Dunia dilanda oleh eksplosit ilmu pengetahuan dan teknologi. Para sarjana,teknisi dan pemimpin negara berkembang perlu memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka.
6)      Psikologis dan Pedagogis
Perkembangan IPTEK yang pesat mempunyai pengaruh besar terhadap konsep tehnik dan metode pendidikan. Akibatnya,tidak mungkin lagi mengejarkan ilmu seluruhnya kepada peserta didik. Karena itu,tugas pendidikan sekolah yang utama ialah yang mengajarkan bagaiman cara belajar,menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus menerus sepanjang hidupnya,memberikan keterampilan kepada peserta didik untuk secara tepat,dan mengembangkan daya adaptasi yang besar dalam diri peserta didik.
B.     Tujuan Pendidikan Seumur Hidup
Tujuan pendidikan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya,yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensial keseluruhan potensi manusia di isi kebutuhannya supaya berkembang secara wajar. Potensi-potensi itu tercakup dalam potensi jasmani dan rohani. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan  kepribadian manusia  bersifat hidup dan dinamis,maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
Tujuan pendidikan menurut UU No 4 tahun 1950  adalah pendidikan dan pengajaran bisa membentuk manusia yang susila,cakap dan warga negara yang demokratis,serta tanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Tujuan selanjutnya budi pekerti akhlak,yang penting dan utama dalam pendidikan,mempunyai ilmu pengetahuan,mencari penghidupan,dan mencapai hidup yang sempurna.
Tujuan umum barangkali dapat di gambarkan sebagaimana tujuan terpisah dari masa sekarang  sebagai hasil perhatian yang di dituju,merupakan tujuan akhir yang final.Para ahli pendidikan cenderung berhenti pada tujuan –tujuan yang dapat tercapai secara terpenggal- penggal dalam suatu langkah tertentu.
Di dalam bukunya Beknopte Theoretische Paedagogiek,Langeveld mengutarakan macam-macam pendidikan sebagai berikut:[5]
  1. Tujuan Umum
Adalah tujuan tujuan sempurna,tujuan akhir,tujuan bulat. Tujuan umum adalah tujuan di dalam pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau pendidik lain,yang telah di tetapkan oleh pendidik dan selalu di hubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan di hubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum itu.
  1. Tujuan-tujuan Tak Sempurna
Ialah tujuan-tujuan mengenai segi-segi kepribadian manusia yang tertentu yang hendak di capai dengan pendidikan itu,yaitu segi-segi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup tertentu.Tujuan tak sempurna ini bergantung kepada tujuan umum dan tidak dapat terlepas dari tujuan umum tersebut. Memisahkan tujuan tak lengkap menjadi tujuan sendiri sehingga merupakan tujuan akhir atau tujuan umum pendidikan,menjadi berat sebelah,dan berarti tidak mengakui kepribadian manusia sebulat-bulatnya. Ingatlah pendidikan hendaknya harmonis.
  1. Tujuan –tujuan Sementara
Merupakan tempat –tempat perhentian sementara pada jalan yang menuju ke tujuan umum,seperti anak-anak di latih untuk belajar kebersihan,belajar bicara. Tujuan sementara ini merupakan tingkatan-tingkatan untuk menuju kepada tujuan umum. Untuk mencapai tujuan-tujuan sementara itu di dalam praktek harus mengingat dan memperhatikan jalannya perkembangan pada anak. Untuk ini  maka perlulah psikologi perkembangan.
  1. Tujuan-tujuan Perantara
Tujuan ini bergantung pada tujuan-tujuan sementara. Contohnya metode mengajar dan membaca.
  1. Tujuan Insidental
Tujuan ini hanya sebagai  kejadian-kejadian yang merupakan saat-saat terlepas pada jalan yang menuju kepada tujuan umum.
Pada umumnya pendidikan seumur hidup di arahkan pada orang dewasa dan pada anak-anak dalam rangka penambahan pengetahuan  dan ketrampilan mereka yang sangat di butuhkan di dalam hidup.
  1. Pendidikan Seumur Hidup kepada Orang Dewasa
Sebagai generasi penerus,para pemuda ataupun dewasa membutuhkan pendidikan seumur hidup dalam rangka pemenuhan sifat “Self Interest” yang merupakan tuntunan hidup sepanjang masa. Diantaranya adalah kebutuhan akan baca tulis bagi mereka pada umumnya dan latihan keterampilan bagi pekerja. Ini berarti tidak ada istilah terlambat  atau terlalu dini  untuk belajar  dan tidak ada konsep bahwa terlalu tua untuk menuntut ilmu. Besar bagi pembangunan pada masa dewasa. Dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih ringan.
Belajar atau mendidik diri sendiri adalah proses alamiah sebagai bagian integral atau merupakan totalitas kehidupan. Jadi,manusia belajar atau mendidik ini,bukanlah sebagai persiapan(bekal) bagi kehidupan(yang akan datang dalam masyarakat),melainkan pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Prinsip pendidikan demikian,memberikan makna bahwa pendidikan adalah tanggung jawab manusia sebagai subyek atas dirinya sendiri. Lebih-lebih yang sudah dewasa supaya meningkat terus menerus yakni mandiri secara sosial ,ekonomis,psikologis dan etis,sifat dan derajat inilah yang di maksud dengan kedewasaan atau kematangan.
  1. Pendidikan Seumur Hidup bagi Anak
Pendidikan seumur hidup bagi anak,merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan oleh karena anak akan menjadi “tempat awal” bagi orang dewasa artinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pengetahuan dan kemampuan anak, memberi peluang.
Pengetahuan dan kemampuan anak,memberi peluang yang besar bagi pembangunan  pada masa dewasa dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih ringan.
Proses pendidikannya menekankan pada metodologi yang mengajar oleh karena pada dasarnya pada diri anak  harus tertanam kunci belajar,motivasi belajar dan kepribadian belajar yang kuat.
Di sekolah-sekolah di ajarkan segala sesuatu kepada anak yang perlu bagi kehidupannya dalam masyarakat,sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Anak harus di didik untuk menjadi orang yang dapat menurut pimpinan dan dapat memberikan atau menjadi seorang yang ahli dalam suatu teknik,perindustrian,dan lain-lain. Pendeknya,pendidikan hendaklah mempersiapkan anak untuk hidup di dalam masyarakat. Teranglah bahwa ia lebih mengutamakan masyarakatnya dari pada anak itu sendiri sebagai individu.
Tentu pandangan ini pun berat sebelah. Kemungkinan akan menimbulkan bahaya kolektivitisme,yaitu suatu pendapat yang tidak menghargai’’penentuan diri sendiri atas tanggung jawab sendiri’’pada seseorang yang berarti pula individualitas di kesampingkan.Pendidikan itu harus dapat maju bersama-sama. Pendidikan individual jangan di abaikan,jadi pendidikan harus berdasarkan kepada pribadi,kepada individualitas anak pendidikan kemasyarakatan pun harus di tanam dengan baik pada anak-anak sebab manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini.Tetapi juga sebagai anggota masyarakat yang terikat oleh adanya larangan-larangan,peraturan-peraturan,undang-undang dan sebagainya.
Oleh karena itu,tugas pendidikan jalur sekolah yang utama sekarang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar,menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya,memberikan skill kepada anak didik secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara cepat. Berkenaan dengan itulah,perlu diciptakan suatu kondisi yang merupakan aplikasi asas pendidikan seumur hidup atauLlife Long Education.
Demikian keadaan pendidikan seumur hidup yang dilihat dari berbagai aspek dan pandangan. Sebagai pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik,terorganisir untuk belajar disetiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Semua itu adalah tujuan untuk menyembuhkan kemunduran pendidikan sebelumnya, untuk memperoleh skill yang baru, untuk meningkatkan keahlian mereka dalam upaya pengertian tentang dunia yang mereka tempati, untuk mengembangkan kepribadian dan tujuan-tujuan lainnya.