Konsep Pendidikan Seumur Hidup

S. Efiaty

Konsep pendidikan seumur hidup ini erat kaitannya dengan paham tentang waktu berlangsungnya pendidikan. Di dalam GBHN 1978 dinyatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
Pembahasan tentang konsep pendidikan seumur hidup ini akan diuraikan dalam dua bagian yaitu ditinjau dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuridisnya.
  1. Dasar Teoritis/ Religious
Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir. Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup,salah satu fungsi sosial,sebagai bimbingan ,sebagai sarana pertumbuhan ,yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.transmisi baik dalam bentuk informasi, formal, maupun non formal.[1]
Hal ini berarti setiap manusia indonesia diharapkan supaya selalu berkembang sepanjang hidup, dan dilain pihak masyarakat dan pemerintah diharapkan agar dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar.
Menurut para Ahli modern, Pendidikan adalah mengadakan pengaruh dengan bermacam-macam pengaruh yang di pilih dengan sengaja untuk menolong anak-anak supaya meningkat kemajuan jasmani,akhlaknya,sehingga sampai dengan berangsur-angsur ketingkat kesempurnaan yang mungkin di capai ,supaya anak –anak itu berbahagia dalam kehidupan perseorangan dan kemasyarakatan .Dan semua amal perbuatan yang di kerjakan nya lebih sempurna dan lebih baik dan berguna untuk masyarakat.[2]
Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak –anak untuk memimpin  perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Pendidikan juga berarti lembaga dan usaha pembangunan bangsa dan watak bangsa. Pendidikan yang demikian mencakup ruang lingkup yang komprehensif,yakni pendidikan mental pikir(rasio,intelek),kepribadian manusia seutuhnya,untuk membina kepribadian demikian jelas memerlukan rentangan waktu yang relatif panjang bahkan seumur hidup
Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas,tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja,tetapi mencakup juga yang formal.
Secara umum pendidikan dapat di artikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.Dengan demikian,bagaimana pun sederhananya peradaban suatu masyarakat,di dalamnya pasti terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang paradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.[3]
Bagi manusia pemenuhan kebutuhan jasmani saja belumlah cukup jika tanpa pemenuhan kebutuhan rohani. Kebutuhan rohani bagi manusia dalam kehidupannya menjadi sangat penting karena tiada terpenuhinya kebutuhan rohani itu akan menimbulkan kegelisahan batin. Salah satu untuk memenuhi kebutuhan rohani adalah agama. Dengan agama akan dapat mengimbangi gejolak manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani yang condong untuk selalu menuntut untuk di penuhi.
 Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad”
Bagi umat islam,agama merupakan dasar utama dalam mendidik anak-anaknya melalui sarana-sarana pendidikan. Karena dengan menanamkan nilai-nilai agama akan membantu terbentuknya sikap dan kepribadian anak kelak pada masa dewasa. Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan kegiatan hidup yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita,tiada batasan untuk memperolehnya,dan berlangsung seumur hidup semenjak buaian hingga ajal.
Menurut Ki Hajar Dewantara konsepsi pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup ini merupakan orientasi baru yang mendasar dengan kebijakan tanpa batas –batas umur dan batas waktu belajar, maka kita mendorong supaya tiap pribadi sebagai  sebagai subyek yang bertanggung jawab atas pendidikan diri sendiri. Inilah konsep –konsep kunci pendidikan seumur hidup:
  1. Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri. Sebagaimana suatu konsep, maka pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.
  2. Konsep belajar seumur hidup dalam pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respons terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar.
  3. Konsep belajar seumur hidup. Belajar seumur hidup dimaksudkan adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup,melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi peroblema dan terdorong tinggi sekali untuk belajar di seluruh tingkat usia,dan menerima tantangan dan perubahan seumur hiudp sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
  4. Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup.Dalam konteks ini,kurikulum didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup.
  1. Dasar Yuridis
Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui :
Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
 Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang).
 Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,kesehatan jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiri,serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989,penegasan tentang pendidikan seumur hidup,dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga,sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama,nilai budaya,nilai moral dan keterampilan”.
Philip H.Coombs mengklasifikasikan pendidikan ke dalam tiga bagian,yaitu pendidikan informal (pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan),pendidikan formal (pendidikan sekolah),dan pendidikan non formal (pendidikan luar sekolah yang dilembagakan).
1.      Pendidikan Luar Sekolah yang Tidak Dilembagakan
Pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar,pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.
2.      Pendidikan Sekolah
Pendidikan sekolah adalah pendidikan di sekolah, yang teratur, sistematis,mempunyai jenjang dan yang dibagi dalam waktu-waktu tertentu yang berlangsung dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
3.      Pendidikan Luar Sekolah yang Dilembagakan
Pendidikan luar sekolah yang dilembagakan adalah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan berencana di luar kegiatan persekolahan. Pendidikan luar sekolah yang dikembangkan bersifat fungsional,praktis,dan pendekatannya lebih fleksibel serta luas dan terintegrasi.
Calon peserta didik pendidikan luar sekolah yang dilembagakan,yaitu :
a.       Penduduk usia sekolah yang tidak pernah mendapat keuntungan/kesempatan memasuki sekolah.
b.      Orang dewasa yang tidak pernah bersekolah.
c.       Peserta didik yang putus sekolah (drop-out),baik dari pendidikan dasar,menengah dan pendidikan tinggi.
d.      Peserta didik yang telah lulus satu sistem pendidikan sekolah,tetapi tidak dapat melnjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
e.       Orang yang telah bekerja,tetapi ingin menambah keterampilan lain.
Dasar pendidikan seumur hidup bertitik tolak atas keyakinan bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup,baik di dalam maupun di luar sekolah.[4]
Ada bermacam-macam dasar pemikiran yang menyatakan bahwa pendidikan seumur hidup sangat penting. Dasar pemikiran tersebut ditinjau dari beberapa segi, antara lain :
1)      Ideologis
Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan serta keterampilannya. Pendidikan seumur hidup akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
2)      Ekonomis
Cara yang paling efektif untuk keluar dari lingkungan kebodohan yang menyebabkan kemelaratan ialah melalui pendidikan.
3)      Sosiologis
Para orang tua dinegara berkembang kerap kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya. Karena itu, anak-anak mereka sering kurang mendapatkan pendidikan sekolah, putus sekolah atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian, pendidikan seumur hidup bagi orang tua akan merupakan pemecahan atas masalah tersebut
4)      Politis
Pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang karena pada negara demokrasi hendaknya seluruh rakyat menyadari pentingnya hak milik,dan memahami fungsi pemerintah, DPR,MPR dan lain-lain.
5)      Teknologis
Dunia dilanda oleh eksplosit ilmu pengetahuan dan teknologi. Para sarjana,teknisi dan pemimpin negara berkembang perlu memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka.
6)      Psikologis dan Pedagogis
Perkembangan IPTEK yang pesat mempunyai pengaruh besar terhadap konsep tehnik dan metode pendidikan. Akibatnya,tidak mungkin lagi mengejarkan ilmu seluruhnya kepada peserta didik. Karena itu,tugas pendidikan sekolah yang utama ialah yang mengajarkan bagaiman cara belajar,menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus menerus sepanjang hidupnya,memberikan keterampilan kepada peserta didik untuk secara tepat,dan mengembangkan daya adaptasi yang besar dalam diri peserta didik.
B.     Tujuan Pendidikan Seumur Hidup
Tujuan pendidikan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya,yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensial keseluruhan potensi manusia di isi kebutuhannya supaya berkembang secara wajar. Potensi-potensi itu tercakup dalam potensi jasmani dan rohani. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan  kepribadian manusia  bersifat hidup dan dinamis,maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
Tujuan pendidikan menurut UU No 4 tahun 1950  adalah pendidikan dan pengajaran bisa membentuk manusia yang susila,cakap dan warga negara yang demokratis,serta tanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Tujuan selanjutnya budi pekerti akhlak,yang penting dan utama dalam pendidikan,mempunyai ilmu pengetahuan,mencari penghidupan,dan mencapai hidup yang sempurna.
Tujuan umum barangkali dapat di gambarkan sebagaimana tujuan terpisah dari masa sekarang  sebagai hasil perhatian yang di dituju,merupakan tujuan akhir yang final.Para ahli pendidikan cenderung berhenti pada tujuan –tujuan yang dapat tercapai secara terpenggal- penggal dalam suatu langkah tertentu.
Di dalam bukunya Beknopte Theoretische Paedagogiek,Langeveld mengutarakan macam-macam pendidikan sebagai berikut:[5]
  1. Tujuan Umum
Adalah tujuan tujuan sempurna,tujuan akhir,tujuan bulat. Tujuan umum adalah tujuan di dalam pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau pendidik lain,yang telah di tetapkan oleh pendidik dan selalu di hubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan di hubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum itu.
  1. Tujuan-tujuan Tak Sempurna
Ialah tujuan-tujuan mengenai segi-segi kepribadian manusia yang tertentu yang hendak di capai dengan pendidikan itu,yaitu segi-segi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup tertentu.Tujuan tak sempurna ini bergantung kepada tujuan umum dan tidak dapat terlepas dari tujuan umum tersebut. Memisahkan tujuan tak lengkap menjadi tujuan sendiri sehingga merupakan tujuan akhir atau tujuan umum pendidikan,menjadi berat sebelah,dan berarti tidak mengakui kepribadian manusia sebulat-bulatnya. Ingatlah pendidikan hendaknya harmonis.
  1. Tujuan –tujuan Sementara
Merupakan tempat –tempat perhentian sementara pada jalan yang menuju ke tujuan umum,seperti anak-anak di latih untuk belajar kebersihan,belajar bicara. Tujuan sementara ini merupakan tingkatan-tingkatan untuk menuju kepada tujuan umum. Untuk mencapai tujuan-tujuan sementara itu di dalam praktek harus mengingat dan memperhatikan jalannya perkembangan pada anak. Untuk ini  maka perlulah psikologi perkembangan.
  1. Tujuan-tujuan Perantara
Tujuan ini bergantung pada tujuan-tujuan sementara. Contohnya metode mengajar dan membaca.
  1. Tujuan Insidental
Tujuan ini hanya sebagai  kejadian-kejadian yang merupakan saat-saat terlepas pada jalan yang menuju kepada tujuan umum.
Pada umumnya pendidikan seumur hidup di arahkan pada orang dewasa dan pada anak-anak dalam rangka penambahan pengetahuan  dan ketrampilan mereka yang sangat di butuhkan di dalam hidup.
  1. Pendidikan Seumur Hidup kepada Orang Dewasa
Sebagai generasi penerus,para pemuda ataupun dewasa membutuhkan pendidikan seumur hidup dalam rangka pemenuhan sifat “Self Interest” yang merupakan tuntunan hidup sepanjang masa. Diantaranya adalah kebutuhan akan baca tulis bagi mereka pada umumnya dan latihan keterampilan bagi pekerja. Ini berarti tidak ada istilah terlambat  atau terlalu dini  untuk belajar  dan tidak ada konsep bahwa terlalu tua untuk menuntut ilmu. Besar bagi pembangunan pada masa dewasa. Dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih ringan.
Belajar atau mendidik diri sendiri adalah proses alamiah sebagai bagian integral atau merupakan totalitas kehidupan. Jadi,manusia belajar atau mendidik ini,bukanlah sebagai persiapan(bekal) bagi kehidupan(yang akan datang dalam masyarakat),melainkan pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Prinsip pendidikan demikian,memberikan makna bahwa pendidikan adalah tanggung jawab manusia sebagai subyek atas dirinya sendiri. Lebih-lebih yang sudah dewasa supaya meningkat terus menerus yakni mandiri secara sosial ,ekonomis,psikologis dan etis,sifat dan derajat inilah yang di maksud dengan kedewasaan atau kematangan.
  1. Pendidikan Seumur Hidup bagi Anak
Pendidikan seumur hidup bagi anak,merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan oleh karena anak akan menjadi “tempat awal” bagi orang dewasa artinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pengetahuan dan kemampuan anak, memberi peluang.
Pengetahuan dan kemampuan anak,memberi peluang yang besar bagi pembangunan  pada masa dewasa dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih ringan.
Proses pendidikannya menekankan pada metodologi yang mengajar oleh karena pada dasarnya pada diri anak  harus tertanam kunci belajar,motivasi belajar dan kepribadian belajar yang kuat.
Di sekolah-sekolah di ajarkan segala sesuatu kepada anak yang perlu bagi kehidupannya dalam masyarakat,sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Anak harus di didik untuk menjadi orang yang dapat menurut pimpinan dan dapat memberikan atau menjadi seorang yang ahli dalam suatu teknik,perindustrian,dan lain-lain. Pendeknya,pendidikan hendaklah mempersiapkan anak untuk hidup di dalam masyarakat. Teranglah bahwa ia lebih mengutamakan masyarakatnya dari pada anak itu sendiri sebagai individu.
Tentu pandangan ini pun berat sebelah. Kemungkinan akan menimbulkan bahaya kolektivitisme,yaitu suatu pendapat yang tidak menghargai’’penentuan diri sendiri atas tanggung jawab sendiri’’pada seseorang yang berarti pula individualitas di kesampingkan.Pendidikan itu harus dapat maju bersama-sama. Pendidikan individual jangan di abaikan,jadi pendidikan harus berdasarkan kepada pribadi,kepada individualitas anak pendidikan kemasyarakatan pun harus di tanam dengan baik pada anak-anak sebab manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini.Tetapi juga sebagai anggota masyarakat yang terikat oleh adanya larangan-larangan,peraturan-peraturan,undang-undang dan sebagainya.
Oleh karena itu,tugas pendidikan jalur sekolah yang utama sekarang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar,menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya,memberikan skill kepada anak didik secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara cepat. Berkenaan dengan itulah,perlu diciptakan suatu kondisi yang merupakan aplikasi asas pendidikan seumur hidup atauLlife Long Education.
Demikian keadaan pendidikan seumur hidup yang dilihat dari berbagai aspek dan pandangan. Sebagai pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik,terorganisir untuk belajar disetiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Semua itu adalah tujuan untuk menyembuhkan kemunduran pendidikan sebelumnya, untuk memperoleh skill yang baru, untuk meningkatkan keahlian mereka dalam upaya pengertian tentang dunia yang mereka tempati, untuk mengembangkan kepribadian dan tujuan-tujuan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s